Mencari Teori Sastra Khas Indonesia?
May 17th, 2007 by dhantaMencari Teori Sastra Khas Indonesia?
BUKU-BUKU teori sastra yang beredar di Indonesia pada umumnya ditulis oleh
penulis asing dan terutama tentang teori sastra Barat. Orang Indonesia pada
umumnya baru sampai pada taraf menjadi penerjemah.
Sebutlah,misalnya buku Rene Wellek dan Austin Warren (1949) Theory of
Literature
(diterjemahkan Melani Budianta menjadi Teori Kesusastraan, 1989),
buku DW Fokkema dan Elrud Kunne-Ibsch (1977) Theories of Literature in the
Twentieth Century (diterjemahkan J Praptadiharja dan Kepler
Silaban menjadi Teori Sastra Abad Kedua Puluh, 1998), atau buku Raman
Selden (1985) A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory (diterjemahkan
Rachmat Djoko Pradopo menjadi Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini,1991).
Buku Tzvetan Todorov (1968) Qu’est-ce que le structuralisme? Po’tique
(diterjemahkan Okke KS Zaimar,Apsanti Djokosuyatno, dan Talha Bachmid menjadi
Tata Sastra,1985),pun bisa menjadi contoh. Begitu pula buku Jan van Luxemburg,
Mieke Bal,Willem G Weststeijn (1982, 1987) Inleiding in de Literatuurwetenschap
dan Over Literatuur(buku pertama diterjemahkan Dick Hartoko menjadi Pengantar
Ilmu Sastra,1984,dan buku kedua diterjemahkan Akhadiati Ikram menjadi Tentang
Sastra, 1989).
Kita pun bisa berkenalan langsung dengan teori sastra Barat itu dengan cara
membaca buku A Teeuw (1984) Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori
Sastra,misalnya. Memang,ada satu dua orang Indonesia yang memberanikan diri
menulis buku teori sastra yang bersumber dari buku teori sastra Barat tersebut,
yaitu Joseph Yapi Taum dan Budi Darma.
Mereka menulis buku Pengantar Teori Sastra dan mencoba meramu, merumuskan,
dan memberi penjelasan tentang teori sastra ––terutama teori sastra Barat––
dengan sudut pandang, fokus bahasan, dan gaya penyajian yang berbeda. Joseph
Yapi Taum mencoba mentransformasikan teori-teori sastra Barat dengan sudut
pandang dan fokus bahasan berorientasi pada teori pendekatan MH Abrams
––meliputi ekspresif, objektif, mimetik, pragmatik–– yang dikombinasikan dengan
teori komunikasi linguistik Roman Jakobson, yang meliputi pengirim, pesan,
pendengar,konteks,hubungan,kode.
Dari dua pakar teori sastra itu, Abrams dan Jakobson,dihasilkan kecenderungan
teori sastra yang ada hingga kini, meliputi romantik, marxis, formalistik,
strukturalistik,
dan orientasi pembaca. Budi Darma membedakan ruang lingkup
sastra adalah kreativitas penciptaan dan ruang lingkup studi sastra adalah ilmu
dengan sastra sebagai objeknya. Fokus sastra adalah kreativitas (puisi, drama,
novel, dan cerpen), dan fokus studi sastra adalah ilmu (teori,kritik,dan sejarah
sastra).
Pertanggungjawaban sastra adalah estetika,dan pertanggungjawaban studi sastra
adalah logika. Budi Darma juga menjelajah ke mazhab teori sastra new criticism
(kritik sastra baru) dan strukturalisme.New criticismyang lahir sebagai reaksi
terhadap kritik sastra sejarah dan kritik sastra biografi, meskipun hanya hidup
selama 20 tahun (1940–1960),dalam praktiknya hingga kini masih banyak diterapkan
oleh kritikus dan peneliti sastra.
Bersamaan dengan new criticism,lahir pulalah mazhab baru formalisme Rusia
yang lebih berorientasi pada bentuk (form) dengan titik berat kajian pada narasi
atau cerita. Formalisme Rusia inilah yang menjadi cikal bakal aliran Praha atau
strukturalisme Praha.Selain berorientasi pada bentuk, mereka juga menganggap
penting otonomi,karya sastra adalah sesuatu yang mandiri dan berdiri sendiri.
Dari kedua aliran itulah kemudian berkembang menjadi strukturalisme yang luas di
Amerika Serikat dan Eropa.
Strukturalisme yang berkembang masuk ke berbagai bidang ilmu, seperti
linguistik, sastra, antropologi, mitologi, sejarah, dan psikologi.Kedekatan
strukturalisme dengan zaman purba,terutama mitologi, dan kepercayaan dengan
menampik eksistensialisme, dicap sebagai primitivisme. Jasa strukturalisme tidak
dapat dihilangkan begitu saja dalam percaturan dunia ilmu,terutama dengan
filsafat fenomenologi dan hermeneutika.
Sangat Fundamental
Demikianlah,teori sastra merupakan salah satu bagian dari tiga bidang studi
sastra bersama sejarah sastra dan kritik sastra.Ketiganya saling berkaitan erat.
Pemahaman sastra melalui teori sastra akan sangat menunjang penguasaan sejarah
sastra dan kritik sastra.
Peran buku ajar teori sastra untuk perkuliahan teori sastra sangat
fundamental.Tetapi, buku-buku yang telah ada dan pernah diujicobakan di kelas
teori sastra dan kritik sastra masih sulit dipahami mahasiswa baru. Bahkan,
mahasiswa lama yang telah dibekali pengetahuan teoretis sastra masih mengalami
kesulitan memahami bahasa konseptual dalam bukubuku teori sastra.
Masih banyak buku-buku teori sastra terbaru (bahasa asing) belum
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, terutama yang ditulis untuk kepentingan
praktis pembelajaran teori sastra yang ”menyenangkan”. Contohnya buku Raman
Selden, Practicing Theory and Reading Literature: An Introduction
(1989).Kalaupun buku itu kelak diterjemahkan, contoh-contoh kasusnya tentu bukan
dari kesusastraan Indonesia.
Akibatnya, ia bukanlah jalan termudah untuk memahami konsep teori sastra
dalam kaitannya dengan sastra Indonesia dan daerah. Ada keluhan, fakultas sastra
mandul dan tidak banyak melahirkan intelektual publik.Mayoritas dosen adalah
akademisi yang ”ketakutan” menghadapi teori.Tak ada dialog dan kritik,teori pun
dimitoskan.Bila ada,kritik lebih banyak mengutak-atik aspek formalitas, yakni
struktur lahir bahasa. Padahal kritik yang mencerdaskan mesti berdaya jelajah,
menyelam ke kedalaman struktur batinnya.
Pendangkalan kritik sastra selama ini dapat dirujukkan pada bobroknya lembaga
pendidikan yang jadi lembaga birokratis. Murid terbodohkan,imajinasinya
terkekang dengan berbagai aturan yang sesungguhnya merupakan penjelmaan
kekuasaan kaum birokrat. Fakultas sastra pun membekukan kreativitas mahasiswa.
Karena itu, bagaimana mungkin kita berharap teori dan kritik sastra khas
Indonesia di tengah situasi semacam ini? Celakanya, kesusastraan Indonesia
sendiri bukanlah kesusastraan yang telah berumur tua.Kesusastraan ini lahir pada
awal abad ke-20 atau akhir abad ke-19.
Dalam sejumlah ensiklopedia mengenai kesusastraan dunia, kesusastraan
Indonesia sering kali tidak dimasukkan atau dijadikan entri. Selain tradisi
sastra Barat, sastra lain yang sering dijadikan entri, misalnya,sastra
China,Jepang,India, Arab, dan Israel, bahkan terkadang malah Filipina.
Kita ingat bagaimana pada awal 1980- an banyak peneliti dan pengamat sastra
mengusulkan perlunya diadakan diskusi di tingkat nasional untuk menyusun teori
sastra yang khas untuk situasi di Indonesia. Mereka ternyata hanya asyik
berdebat, karena teori sastra khas Indonesia itu sampai kini belum muncul. Kita
masih suka memamah biak teoriteori sastra dari Barat.(*)
GUNOTO SAPARIE
Penyair dan Bendahara Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT)
Sumber : [1] Koran Sindo

